Jika ditanya siapa yang menyayangi anaknya, hampir semua orang tua tentu mengaku menyayangi anaknya, jika ditanya siapa yang inginkan yang terbaik untuk anaknya, hampir semua orang orang tua merasa telah berikan yang terbaik untuk buah hatinya.
Tapi terkadang tanpa disadari pengakuan dan perasaan itu bertolak belakang dengan kenyataannya. Dalam ilmu parenting, kita sering menjumpai ternyata banyak hal yang harus dibenahi dalam pola asuh dan didik kita sebagai orang tua.
Dalam kesempatan pameran pendidikan tahunan 'Sunlife Edufair 2017' yang diselenggarakan selama 3 hari mulai 20-22 Oktober 2017 di Kota Kasablanka, Jakarta, pakar pendidikan anak legendaris Dr. Seto Mulyadi Psi. MSi atau yang selalu dipanggil Kak Seto, membahas tema yang penting ini dengan tajuk 'Mendidik dengan Cinta'.
Bicara tentang mendidik anak, ia tak cuma perkara mengajarkan sesuatu hal kepada anak agar bertambah kemampuannya dalam bidang yang diajarkan tersebut, tapi ia juga bicara latar belakang dan tujuan si pendidik, bicara tentang cara, bicara tentang respon dan dampak samping, dan tentu saja bicara tentang hasil akhirnya. Di luar semua itu, bicara mendidik anak tak terbatasi oleh ruang dan waktu. Selamanya, sebagai orang tua akan selalu merasa terpanggil untuk mengantarkan anak sampai pada akhir yang terbaik.
Pendidikan berkaitan dengan harapan orang tua untuk mencerdaskan anak-anaknya tapi kadang kita sering salah memahami tentang kecerdasan itu sendiri.
Banyak orang tua yang menjejali anaknya dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan sejak usia dini dengan harapan si anak akan memiliki kecerdasan yang lebih namun tanpa menyadari hal itu berpotensi membuat anak merasa tertekan, kelelahan secara fisik dan mental.
Saya ingat beberapa pengaduan teman yang dahulu diperlakukan kurang enak oleh pengajarnya baik oleh kalangan guru maupun orang tuanya sendiri, bagaimana mereka dibentak atau dikomentari dengan kata-kata dan nada bicara yang tak enak oleh ortu/gurunya jika belum mengerti dengan yang sedang diajarkan. Bagaimana mereka dikatai "bodoh' atau istilah-istilah lain yang merendahkan. Sayangnya semua itu dilakukan banyak orang tua (semoga tidak termasuk kita) demi agar anak menjadi 'cerdas'.
Menurut Kak Seto, pada dasarnya semua anak itu cerdas. Hal yang tak semua kita lihat, karena kebanyakan orang tua menilai kecerdasan hanya diukur dari seberapa mampu anak memahami pelajaran matematika, ilmu pengetahuan alam, bahasa dsb.
Padahal, spektrum kecerdasan anak itu luas. Ada 4 kecerdasan yang dimiliki setiap orang :
Anak yang dianggap tak cerdas dalam bidang tertentu bukan berarti ia tak cerdas dalam bidang lainnya. Ada anak yang cerdas dalam bidang study empiris, ada yang cerdas di bidang musik, ada yang cerdas di bidang olah raga, ada yang cerdas di bidang olah suara, ada yang cerdas di bidang olah masakan dll.
- Kecerdasan Sosial
- Kecerdasan Emosional
- Kecerdasan Moral
Anak yang dianggap tak cerdas dalam bidang tertentu bukan berarti ia tak cerdas dalam bidang lainnya. Ada anak yang cerdas dalam bidang study empiris, ada yang cerdas di bidang musik, ada yang cerdas di bidang olah raga, ada yang cerdas di bidang olah suara, ada yang cerdas di bidang olah masakan dll.
Anak yang cerdas di bidang empirispun terpilah lagi. Bisa jadi ia pintar Matematika tapi belum tentu ia menguasai pelajaran Kimia. Anak yang pandai memainkan alat musik gitar, belum tentu iapun menguasai alat musik biola. Anak yang jago basket, belum tentu senang dan bisa sepak bola.
Banyak anak yang dilabeli kata 'bodoh', 'malas', 'nakal', 'gak nurut orang tua' hanya karena tak menguasai sesuatu bidang, padahal semua anak pada dasarnya adalah pribadi-pribadi pembelajar. Ini dikaruniakan Tuhan bahkan sejak mereka masih berada dalam kandungan.
Namun karena ketidak pahaman banyak orang tua yang terburu-buru, terus menjejali anaknya dengan hal-hal yang tak mereka sukai.
Memaksa anak mempelajari apa yang tak disukainya akan membuatnya merasa tertekan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar